Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Modal spiritual, modal sukses perusahaan di masa depan


Telkom baru-baru ini membentuk satu Unit Kerja baru dibawah Direktorat Human Capital & General Affair, yang mengelola pembinaan karakter untuk karyawan Telkom, yaitu Unit Spiritual Capital Management.

Unit Kerja ini baru dibentuk sekitar bulan Oktober lalu, yang kemudian mengawali kegiatannya dengan mengadakan Training bertema "Spirituality in Work" yang dilaksanakan mulai hari ini, Rabu (15/01) hingga Kamis (16/01) bertempat di Kompleks Telkom Training Center, Bandung.

"Tugas utamanya adalah membangun pendidikan karakter karyawan Telkom di seluruh Indonesia. Programnya melalui dua pendekatan: pembinaan secara formal, yang dilaksanakan mulai malam ini, kemudian pembinaan secara fungsional melalui masjid", terang Yusuf.

Rangkaian kegiatan Training ini dibuka dengan sambutan dan perkenalan yang dilaksanakan selepas Shalat Isya berjamaah di Masjid Al-Murosalah. Dalam sambutannya, Yusuf menuturkan pentingnya mengaplikasikan nilai spiritual kedalam pekerjaan dan membangunnya menjadi Spiritual Capital sebagai modal perusahaan untuk maju. "Telkom diharapkan makin hebat, karena kalau kemarin modalnya modal fisik, modal intelektual, nah mulai tahun 2013 ke depan ditambah dengan modal satu lagi yang sudah ada, tinggal dikelola dan dikembangkan serta diberdayagunakan yaitu modal spiritual. Dengan tiga modal ini, maka Telkom makin jaya.", ungkap beliau dalam sambutannya.

Beliau juga mengangkat kisah hancurnya perusahaan terkenal di Amerika Serikat, Enron, yang pada tahun 2000 menempati peringkat ke-7 dalam daftar 500 Perusahaan besar dunia (Top 500), sebagian sahamnya bahkan dimiliki oleh pejabat di Gedung Putih. Namun pada tahun 2001, perusahaan ini hancur akibat dari tindakan yang tidak jujur oleh para pejabatnya yang merekayasa laporan keuangan perusahaan.

Terakhir, beliau menyimpulkan bahwa profesionalitas, intelektual tinggi dan kapabilitas serta kompetensi memang diperlukan, tetapi kalau itu semua tanpa didasari dan tidak dikendalikan oleh spiritualitas yang tinggi, maka kehancuranlah yang akan terjadi. "Atas dasar itulah, Telkom ke depannya agar lebih baik harus kita mulai bersama, salah satunya diawali dengan memantapkan spiritualitas karyawannya", ungkap beliau.

Dalam kesempatan kali ini juga dibuka sesi ta'aruf atau perkenalan dari para peserta yang terdiri dari perwakilan kantor Telkom di seluruh Indonesia, dari Sabang-Merauke. Tujuan dari perkenalan ini diharapkan seluruh peserta dapat saling mengenal dan berbagi pengalaman di daerahnya masing-masing serta harapannya untuk Telkom di masa mendatang.

Seperti yang disampaikan salah satu peserta, Mugiyanto, dari Balikpapan, beliau menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan ini, dan berharap dengan mengikuti kegiatan ini dapat meningkatkan spiritualitas karyawan, terutama dalam hal kejujuran.

Menurut rencana, rangkaian acara akan diisi dengan kegiatan Qiyamul Lail (Shalat Malam) pada Kamis dini hari, kemudian kegiatan inti yaitu Training pada pagi harinya, dan ditutup dengan penampilan dari Ebiet G. Ade, yang bertempat di Menara RDC Telkom Training Center.

Berikut adalah kutipan wawancara dengan bapak Yusuf Muhammad, selaku Kepala Unit Spiritual Capital Management Telkom:

Saya lihat hari ini di masjid ini (Masjid Telkom Training Center) lebih ramai dari biasanya, kalau boleh tahu ada kegiatan apa ya pak?
Ada cara Training Spirituality In Work, bagian dari program pembinaan karakter karyawan Telkom.

Apakah ini adalah kegiatan yang baru pertama kali dilakukan?
Iya, Baru. Live nya baru bulan Januari ini, organisasinya dibentuk bulan Oktober kemarin.

Apakah kegiatan ini memang program dari Telkom, atas keinginan direksi, atau usulan dari pihak lain?
Iya, (kegiatan ini) program dari Telkom, murni inisiatif kebijakan dari manajemen. Seperti yang saya sampaikan (tadi saat sambutan), Telkom ke depan perlu menjadi lebih bagus, dan menjadi perusahaan yang terbaik, cuman pertanyaannya modal apa yang nanti bisa dioptimalkan. Selama ini modal fisik, dana, kemudian intelektulitas, lalu kompetensi. Kegiatan keagamaan sudah berkembang tapi belum dimenej secara sistematis. Harapannya dengan pembinaan karakter ini dapat memberikan spirit yg lebih baik.

Sebagai mahasiswa pak, pastinya setelah lulus, sebagian dari kami nanti akan bekerja. Biasanya, saat mahasiswa punya spiritual dan idealisme yang kuat, namun kemudian ketika bekerja justru malah turun. Apakah faktor penyebabnya dari lingkungan kerja?
Iya, saya kira memang iya, pengaruhnya banyak. Ketika mahasiswa, idelismenya masih utuh, masih murni. Tapi ketika bekerja, karena euforia dapat duit, punya cita-cita lain, dsb (sehingga berubah). Spirit seseorang atau pemikiran itu bisa dipengaruhi oleh lingkungan, oleh berbagai hal. Nah oleh karena itu, kemudian dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti ini (pengembangan karakter berbasis spiritual), potensi yang sudah dibawa itu mestinya bisa dioptimalkan.

Apakah ada tips untuk kita mahasiswa nantinya ketika bekerja, agar bisa menjaga spirit yang kita bawa ketika mahasiswa?
Tips yang paling utama dalah fokus kepada rencana (awal) kita. Supaya bisa fokus, maka yang paling penting adalah kesadaran (diri) harus kita pelihara. Logikanya gampang, makin kesini (semakin bertambah waktu) itu tidak makin mudah. Oleh karena itu berarti, kalaulah kita mampu, perlu bergantung kepada Yang Maha Mampu. (IFR)
Read More...

Kisah Perjalanan Sahabat GAMUS di IMSS 2012 (2)

Inspirasi Tiada Henti di Seminar IYIL (Indonesian Young Islamic Leader)
Oleh: Novi Ahimsa Rosikha (sumber artikel)


“Setiap generasi memiliki zaman sendiri, dan setiap zaman memiliki generasinya sendiri.”


Auditorium Sabuga saat seminar IYIL
[Hari Ke-1]
Pukul 12.30 WIB. Usai istirahat, solat, dan makan siang, peserta kembali memasuki ruangan auditorium Sabuga untuk mengikuti seminar IYIL bersama Bapak Dahlan Iskan, Menteri BUMN dan Ibu Tri Mumpuni. Apa itu IYIL? IYIL merupakan kependekan dari Indonesian Young Islamic Leader. Menurut buku panduan IMSS, Seminar IYIL bertujuan untuk membangun inisiatif dan memunculkan kembali tokoh pemuda (mahasiswa) serta membangkitkan semangat kepemimpinan dalam jiwa mahasiswa. Tajuk seminar IYIL kali ini adalah “Youth And Relationship and Each Sector Around Us”,yang dimoderatori oleh Adjie Wicaksana, Kepala GAMAIS ITB 2010.
Inspirasi pertama disampaikan oleh Ibu Tri Mumpuni, perwakilan dari Lembaga Swadaya Masyarakat, yang sudah membuat banyak perbaikan di berbagai pelosok negeri. Tak heran, kalau Ibu yang satu ini sudah memiliki seabrek penghargaan, baik nasional, maupun internasional. Dalam seminarnya, beliau menyampaikan supaya pemuda Indonesia lebih peka terhadap lingkungan sehingga mengetahui masalah-masalah bangsa. Menurut beliau, untuk menjadi pemimpin tidak perlu muluk-muluk, yang paling penting adalah bisa mengerti, bisa membaca lingkungan, serta memiliki solusi yang konkrit untuk itu.
“Pokoknya mulai dari yang kecil, karena jumlah yang kecil itu jutaan. Selesaikan dulu satu persoalan. Temukan solusinya yang konkrit, kerjakan sungguh-sungguh. Yang penting konsisten. Hidup itu harus memilih dan ketika sudah memilih, milikilah konsekuensi untuk mencintai pilihan itu.”
Hmm, ketika itu saya jadi berpikir, kalau satu persoalan diselesaikan oleh seorang pemuda, dan setiap pemuda di negeri ini menyelesaikan sungguh-sungguh persoalan tersebut, saya yakin, satu per satu persoalan tersebut tersebut akan terselesaikan. Tunggu apa, Kawan? Action! Presentasi beliau ini benar-benar membuat kita ingin bergerak, semoga saja semangatnya tidak berhenti dalam beberapa hari saja, tetapi konsisten sebagai bentuk konsekuensi atas tindakan kita. Tentu saja, dengan tetap berkolaborasi satu sama lain.
Lucunya, di tengah-tengah seminarnya yang begitu powerful, Ibu Tri Mumpuni memancing gelak tawa sekitar 1700 peserta IMSS dengan pesan penting beliau, “Dalam hidup itu, pandai-pandailah memilih jodoh.” Menurut beliau, kalau kita pandai memilih jodoh, yang merupakan pendamping kita, kita juga akan tertuntun dalam aktivitas kita. Didukung, diingatkan, dan tentu saja, dibantu dalam menjalankannya.
Masih menurut Ibu Tri, salah satu sumber daya nasional terbaik yang dimiliki Indonesia adalah kaum dhuafa. Allah menitipkan mereka banyak untuk kita karena doa mereka tanpa sekat. Oleh karena itu, bila kita menjadi birokrat nanti, beliau berpesan supaya kita berpihak pada kaum yang susah, karena merekalah yang akan mendoakan. “Mudahkanlah jalan hidup orang lain, hingga Allah kelak akan memudahkan hidupmu.”
Menutup seminar beliau, Ibu Tri menjelaskan bahwa kemiskinan BUKAN masalah utama. Kemiskinan hanya akibat dari tidak terhubungnya masyarakat lokal dengan sumber daya utama mereka. Kuncinya adalah percaya, percaya bahwa semua bisa teratasi. Oleh karena itu, kembali beliau mengajak kaum muda untuk menghubungkan sumber daya yang terputus tersebut, dengan semangat perbaikan untuk negeri, menjadi hebat di mana pun, berkompetensi internasional, namun berkiprah untuk negeri.
Ibu Tri juga memberikan contoh aksi nyata beliau dalam membuat suatu perubahan, seperti menghubungkan listrik di daerah-daerah terpelosok, membuat saluran air, dan hal-hal lain yang sekilas tampak sederhana namun nyata dan bermanfaat. Seminar beliau kemudian ditutup dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama dan gema takbir yang menggelegar, semakin membuat hati bergetar dan merinding. Subhanallah.
Inspirasi yang tak kalah menarik selanjutnya datang dari Bapak Dahlan Iskan, Menteri BUMN. Beliau datang bersama cucu beliau yang mungkin masih berusia 4-5 tahun. Lucunya, di tengah seminar beliau tentang perekonomian Bangsa Indonesia, cucu beliau berkali-kali menarik perhatian peserta karena ulah polosnya di atas panggung.
Bapak Dahlan menjelaskan, bahwa sepuluh tahun dari sekarang, Indonesia sudah harus benar-benar berubah. Sepuluh tahun itu tidak lama, oleh karena itu perubahan itu harus dimulai dari sekarang. Perekonomian Indonesia, menurut beliau, saat ini sudah jauh lebih baik. Tidak ada sistem “bagi-bagi kue” seperti yang terjadi pada zaman orde baru. Oleh karena itu, kita harus menyambut momen itu dengan kemampuan dan potensi yang kita miliki. Kita harus mengembangkannya. Apalagi, para pemuda zaman ini sudah memiliki bekal intelektual yang mumpuni, yang tentu saja lebih baik dari pemuda-pemuda terdahulu. Wajar, jika sudah seharusnya, generasi kita membawa Indonesia ke dalam taraf ekonomi yag jauh lebih baik lagi. Selain itu, beliau juga bercerita tentang prospek mobil listrik untuk menghemat energi di masa depan.
“Setiap generasi memiliki zaman sendiri, dan setiap zaman memiliki generasinya sendiri.” ujar beliau menutup seminarnya.
Setelah seminar dari dua tokoh yang sangat inspiratif, peserta IMSS kembali disuguhkan video-video inspiratif dari enam besar peserta IYIL Camp. Video-video ini, lagi-lagi menggetarkan hati. Ada yang bercerita tentang sosok ibunya. Ada yang bercerita tentang keberhasilan mereka meraih mimpi. Ada yang berhasil membuat Album Kompilasi nasyid. Ah, banyak. Yang paling mengharukan, menurutku, adalah video seorang pemuda asal Padang yang menjadi muallaf tahun 2010 silam. Tapi, lihatlah, pemuda itu sekarang sudah gagah berdiri dengan iman islamnya yang kuat.
“Mama, Papa, Oma, dan keluargaku, suatu saat, saya ingin mengajak kalian ke jalan Islam yang indah ini.” katanya dengan tegas, membuat kami merinding, bahkan beberapa akhwat pun meneteskan air mata. Takbir kembali menggema.
Pemutaran video dan penyerahan hadiah ini, sekaligus menjadi penutup acara IMSS di hari pertama. Entah sudah berapa kali takbir menggema dari pagi hingga senja ini. Aku masih saja bergetar mendengarnya.
Bandung,
Sabuga 15 Juli 2012
Edited 19 Juli 2012
Masih ditulis dengan semangat yg membara
Read More...

Kisah Perjalanan Sahabat GAMUS di IMSS 2012 (1)

Gema Takbir di Opening IMSS 2012 yang Menggetarkan
Oleh: Novi Ahimsa Rosikha (Sumber Artikel)

[Hari ke-1]
Ahad, 15 Juli 2012. Halaman Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) sudah dipadati ratusan mahasiswa dengan bermacam warna almameter sejak pukul 07.00 WIB. Kami sendiri dari GAMUS IM Telkom sampai pukul 07.05 WIB. Ah iya, akhirnya para akhwat GAMUS IM Telkom memilih untuk tidak tinggal di asrama, mengingat nama kami yang tidak terdata dan riwehnya panitia, kami memutuskan untuk tidak mempersulitnya dan tinggal di kos sahabat di daerah Gegerkalong yang tidak terlalu jauh dari ITB. 
Alhamdulillah ikhwannya lebih dipermudah. Mereka mendapatkan asrama dan juga teman sekelompok serta LO dengan lancar. Sementara para akhwat, hari itu, masih mengurus itu semua. Alhamdulillah, selanjutnya semua dipermudah. Kami (para akhwat) kemudian tergabung dalam kelompok 20, bersama sahabat-sahabat dari Malang, Maluku, dan Palembang. Di sinilah, perjalanan kami di IMSS dimulai.
Lalu siapa sepuluh pasukan GAMUS yang mengikuti rangkaian acara ini? Dari kubu akhwat, GAMUS mengirimkan empat anggotanya, Marjani dan Ulya (2011), Resty Famelia, serta saya sendiri. Sayangnya, pada hari pertama, Resty berhalangan hadir. Alhamdulillah, sahabat kami sekaligus Ibu sekum, Fatimah Putri, menggantikan Resty pada hari pertama. Sayangnya, untuk hari-hari berikutnya, Ibu Sekum berhalangan hadir karena memiliki amanah lain di Jakarta. Sementara di kubu ikhwan, ada Kepala Gamus (Ahsan), dua sekjen (Iksan dan Amir), Kepala Gamus tahun lalu (Kak Dhanis), Menteri Askeu (Irwan), dan satu adik kami dari angkatan 2011, Doni.
Usai sarapan bersama, kami pun memasuki Auditorium Sabuga untuk mengikuti acara opening IMSS 2012. Acara ini dibuka oleh penampilan yang amazing dari kelompok musik Sunda yang disambung dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan sambutan dari ketua Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus Nasional (FSLDKN), Ahmad Rochfi’l Chaniago dari UNILA. Dalam sambutannya, Kang Rochfi menjelaskan bahwa IMSS 2012 ini merupakan bentuk go internationaldari FSLDKN yang ke-16. Kang Rochfi juga berharap, IMSS bisa menjadi inspirasi dan ajang bertukar informasi dari seluruh LDK yang kemudian bisa diaplikasikan di LDK masing-masing. Menutup sambutannya, Ketua FSLDKN ini memberikan kalimat penyemangat, “FSLDKN, bersua tak sekadar sapa, bervisi tak sekadar mimpi.” yang disambut dengan gema takbir Allahuakbar dari segala penjuru Sabuga pagi itu.

suasana auditorium Sabuga saat opening IMSS 2012, 15 Juli 2012
Usai sambutan yang penuh semangat dari Ketua FSLDKN, acara dilanjutkan dengan speech dari Rektor ITB. Menurut rektor ITB, Prof. Akhmaloka, Ph.D, yang terpenting dalam semangat perjuangan adalah komitmen, jangan hanya mengejar cita-cita sendiri, tetapi juga wujudkan cita-cita masyarakat. Beliau juga menambahkan bahwa pendidikan karakter sangat penting untuk menciptakan etika dan sikap mahasiswa yang baik. Di akhir pidatonya, Beliau berpesan, “Di tangan para pemuda, dunia menunggu perbaikan, jaga amanat itu baik-baik.”
Opening IMSS 2012 dilanjutkan dengan penampilan teater dari sahabat STSI, Bandung. Teater ini menceritakan tentang umat Islam yang saling bercerai berai, padahal sudah seharusnya kita bersatu untuk menghadapi semua masalah ummat. Teater ini sukses membuat para peserta menangis haru, khususnya akhwat. Apalagi ketika layar besar di tengah auditorium Sabuga itu menampilkan penderitaan saudara kami di Palestina. Usai teater, pesertapun berdiri mengucapkan kalimat tauhid dan pemukulan gong oleh para petinggi. IMSS resmi dibuka. Takbir kembali menggema, membangkitkan semangat perjuangan yang luar biasa.
Peserta IMSS tiba-tiba dibuat takjub ketika grup Nasyid Shuratul Harakah berada di atas panggung, membawakan nasyid-nasyid perjuangan, yang sontak memanaskan darah muda sekitar 1700 pemuda di auditorium ini. Para ikhwan pun maju ke depan panggung. Masih dengan semangat yang luar biasa, mereka bernyanyi di depan, diselingi takbir Allahuakbar. Penampilan nasyid selanjutnya, dari Tashiru, yang masih membuat para peserta semangat. Opening IMSS 2012 pun selesai sekitar pukul 11.00 WIB. Peserta kemudian keluar untuk istirahat, solat, dan makan siang.
Entah sudah berapa kali takbir menggema, entah sudah bagaimana pula hatiku bergetar mendengarnya.
Bandung,Sabuga 15 Juli 2012. Edited 19 Juli 2012
Ditulis dengan penuh semangat.-azaleav-
Read More...